Si Gamelan dari Desa Wirun

GamelanBeberapa waktu yang lalu, saya menyempatkan diri untuk pergi kebeberapa industri sektor informal yang berada di lingkungan sekitar daerah saya. Hal ini saya lakukan untuk mencari inspirasi bahan tugas akhir saya.. hehe. Sebelumnya saya tidak begitu tahu berapa banyak dan dimana saja lokasi industri sektor informal di daerah saya. Yang saya tahu hanyalah industri gitar dan itu karena berada di desa saya (-___-‘ hehe). Saya pun mencoba bertanya ke kakak saya tentang industri di kabupaten Sukoharjo ini. dan akhirnya dapet satu rekomendasi tempat yaitu Indutri Gamelan. Alasannya sih simple, karena kakak saya sudah kenal yang punya industri, jadi nantinya lebih mudah untuk ijinnya. Dan.. saya pun langsung mengunjungi tempat itu untuk sekedar observasi dan memotret pekerja yang sedang bekerja. Daripada membicarakan tentang tugas akhir saya mendingan langsung fokus ke Industri Gamelannya yaa..😀

Yap, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, disinilah sentra industri gamelan. Desa Wirun ini mendapat julukan ‘Desa Wisata’ karena banyaknya potensi wisata yang dimiliki kawasan itu. Selain industri gamelan disini juga banyak ditemui rumah-rumah yang memproduksi genteng dan batu bata. Namun tetap gamelan lah yang paling terkenal di desa ini. setiap pemilik usaha gamelan ini memiliki kurang lebih 10-15 pekerja. Namun tidak semua pekerja bekerja dalam satu tempat, ada yang di bagian peleburan, adan yang dibagian tes suara dan ada pula yang dibagian finishing. Di bagian peleburan, pekerja bisanya memulai membuat bahan logam untuk gamelan. Gamelan itu sendiri terbuat dari campuran antara logam tembaga dengan logam timah putih dengan perbandingan 10:3. Bahan baku tersebut dicampur dalam tungku yang panas dan dileburkan sampai menyatu menjadi bubur. Setelah lebur menjadi bubur, bubur itu dicetak dalam cetakan khusus berbentuk lempengan bulat dan didiamkan sampai mengeras.

Percikan ApiLempengan yang sudah jadi kemudian ditempa secara terus menerus, sehingga menjadi sebuah gong. Dalam proses penempaan ini, sangat diperlukan bara api yang sangat panas agar lempengan tadi dapat ditempa. Untuk baranya digunakan bara pohon jati dan menggunakan blower dibagian bawah untuk membantu memanaskan bara. Begitu panas jika berada dalam ruangan ini, ruangan yang tertutup dengan bara api dan logam panas yang besar didalamnya. Selain itu, debu yang dihasilkan dari bara api ini sangat banyak dan tidak bisa keluar ruangan. Bisa jadi debe-debu ini terhirup oleh pekerja. Belum lagi percikan dari bara api yang terbang keatas ketika blower dinyalakan.

Proses penempaan ini bergantung dari besar kecilnya gong yang akan dibuat. Kalau gong yang dibuat berukuran besar maka proses penempaan bisa memerlukan waktu 2-3 hari kerja, kalau gong yang dibuat kecil bisa selesai dalam 1 hari. Dalam proses penempaan ini hanya terdapat 8 pekerja secara bergantian menempa logam gamelan tersebut. Jikalau ada seorang pekerja yang tidak masuk kerja, maka proses penempaan ini tidak bisa dilakukan. Bisa dibayangkan betapa pentingnya pekerja dalam proses ini.

Dokumentasi Industri Gamelan

Setelah menjadi bentuk seperti gong, langkah selanjutnya membentuk lengkung pada gong tersebut. Setelah itu barulah dihaluskan sampai ketebalan yang diinginkan. Bentuk lengkung dan ketebalan gong inilah yang akan mempengaruhi bunyi nada yang akan dikeluarkan dari gong ini. setelah mendapatkan suara yang pas maka gamelan siap dipacking dan dijual.

Harga seperangkat gamelan lengkap memang tidak main-main. Untuk membuat satu perangkat gamelan lengkap, seorang perajin harus menyediakan 1,3 ton tembaga dan 3 kuintal perunggu. Satu perangkat gamelan lengkap biasa dijual dengan harga hingga Rp 300 juta. Satu perangkat lengkap terdiri dari 26 item gamelan. Sedangkan untuk perangkat gamelan yang terbuat dari kayu, kendang misalnya, perajin biasanya memberi order kepada perajin lain.

Di desa Wirun setidaknya terdapat 5 perajin gamelan yang masih bertahan hingga kini. Jumlah ini lebih sedikit daripada tahun-tahun sebelumnya. Karena kondisi ekonomi yang tak menentu dan tingginya harga bahan baku gamelan membuat pengerajin kuwalahan dan pada akhirnya gulung tikar. Ironis memang ketika Desa ini mendapatkan julukan ‘Desa Wisata’ namun tidak begitu diperhatikan oleh pemerintah dalam hal pengembangan desa wisata itu sendiri. Semoga kedepannya ada perhatian dari pemerintah agar dapat mengembangkan potensi budaya dan wisata yang terdapat di desa ini.[]

Salam..

@pianHervian

About pianhervian

Aku hanyalah manusia biasa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP angakatan 2009.... Ingin belajar dan berbagi Cerita dan Informasi di dunia maya....

Posted on 3 Januari 2013, in Serba-serbi, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: