Cegah HIV/AIDS dengan ‘Peer Education’

Tulisan ini dibuat guna melengkapi tugas mata kuliah karya tulis ilmiah

images (1)HIV/AIDS yang dikenal dengan penyakit yang belum diketahui obatnya ini semakin memakan korban. Nampaknya penderita HIV/AIDS selalu meningkat setiap tahunnya. Hanya saja sedikit penderita yang diketahui telah positif mengidap penyakit yang menurunkan kekebalan tubuh ini. Hal ini seperti fenomena gunung es, dimana penderita yang tercatat oleh pihak pelayanan kesehatan hanya sebagian kecil dari semua penderita yang positif terinfeksi. Bagaimana tidak? penderita biasanya tidak tahu bahwa dirinya telah terinfeksi HIV. Hal itu dikarenakan pada fase awal penderita HIV ini tidak terlihat sakit, tubuh mereka terlihat sehat sama seperti orang sehat lainnya, namun didalam tubuhnya hidup virus yang akan menurunkan sistem imunnya. Dalam kurun waktu yang lama, virus tersebut akan menggerogoti tubuh si penderita.

Sejumlah data menyebutkan bahwa penderita HIV/AIDS berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan wiraswasta, PSK, mahasiswa, ibu rumah tangga bahkan anak-anak pun telah banyak yang mengidap penyakit ini. Dikutip dari kompas.com (21/09/2012) bahwa dari data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, tercatat hingga Juni 2012 ada 297 orang penderita HIV/AIDS dari kalangan yang berprofesi wiraswasta. Sementara yang tidak bekerja sebanyak 141 orang, PSK 85 orang, karyawan 63 orang, pelaut 60 orang serta mahasiswa sebanyak 83 orang. Jumlah terbanyak pengidap HIV/AIDS dari kalangan ibu rumah tangga sebanyak 199 orang.

Selain itu data laporan perkembangan HIV/AIDS dari Kementrian Kesehatan pada triwulan II tahun 2012 ini menyebutkan bahwa untuk kasus HIV dari April sampai dengan Juni 2012 jumlah kasus baru HIV yang dilaporkan sebanyak 3.892 kasus dengan presentase kasus HIV tertinggi pada kelompok umur 25-49 tahun (72%), diikuti kelompok umur 20-24 tahun (12%) dan kelompok umur < 4tahun (7%). Sedangkan untuk kasus AIDS, dari April sampai dengan Juni 2012 jumlah kasus baru AIDS yang dilaporkan sebanyak 1.673 kasus dengan presentase kasus AIDS tertinggi pada kelompok umur 30-39 tahun (36,2%), diikuti kelompok umur 20-29 tahun (32,2%) dan kelompok umur 40-49 tahun (15,9%).

Banyak faktor yang menyebabkan peningkatan jumlah kasus setiap tahunnya. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS dan seks menjadi salah satu sebabnya. Ketidaktahuan masyarakat mengenai informasi HIV AIDS ini menyebabkan orang yang telah terinfeksi HIV pun tidak tahu bahwa dirinya telah terinfeksi. Dari sisi fisik orang yang telah terinfeksi sama seperti halnya orang yang sehat. Selain itu, permasalahan yang ada di Indonesia ini adalah banyak dari masyarakat yang menganggap tabu ketika berbicara tentang seks termasuk orang tua. Kurangnya pengetahuan seks pada anak remaja memicu keingintahuan berlebih pada anak. Apalagi, orang tua kerap kali tertutup soal seks karena masih dianggap tabu untuk diperbincangkan. Alhasil, mereka memuaskan rasa keingintahuan mereka dengan bertanya pada teman, atau mencarinya di internet yang belum tentu menyediakan informasi yang benar. 

HIV/AIDS
imagesLalu apa itu HIV/AIDS?. Nah, HIV atau human immunodeficiency virus ini merupakan jenis virus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia, dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini dapat mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS atau acquired immunodeficiency syndrome ini menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS. Dengan kata lain, infeksi HIV itulah yang menjadi penyebab terjadinya AIDS.

Bagaimana cara penularan sehingga banyak memakan korban?. HIV dapat ditemukan dalam cairan tubuh seperti darah, cairan semen, cairan vagina dan air susu ibu. HIV dapat ditularkan melalui seks penetratif (anal atau vaginal) dan oral seks; transfusi darah; pemakaian jarum suntik terkontaminasi secara bergantian dalam lingkungan perawatan kesehatan, dan melalui suntikan narkoba; dan melalui ibu ke anak, selama masa kehamilan, persalinan, dan menyusui.

Lalu apakah penularan HIV/AIDS dapat dicegah?. Pada dasarnya terdapat prinsip pencegahan HIV/AIDS yaitu dengan ABC. Apa itu ABC? ABC merupakan saingkatan dari Abstinence, Be Faithful, dan CondomsAbstinence (Menghindari), metode pencegahan yang paling efektif dengan cara menghindari hubungan seks dan perilaku berisiko tinggi. Be Faithful (Setia), berganti-ganti pasangan meningkatkan risiko terinfeksi HIV. Condoms (Menggunakan Kondom), melakukan hubungan seksual dengan perlindungan untuk mencegah penularan penyakit, termasuk HIV.

Selain konsep ABC, yang dapat dilakukan guna mencegah penularan HIV/AIDS adalah dengan pendidikan seks. Pendidikan seks ini nantinya akan mengajarkan arti seks yang sesungguhnya kepada anak-anak dan remaja. Seperti yang kita ketahui bahwa pada usia anak-anak dan remaja mempunyai rasa keingintahuan yang kuat. Apabila tidak terpuaskan dengan jawaban yang kurang tepat maka mereka akan mencari sendiri untuk menjawab rasa keingintahuan mereka, misalnya tentang seks. Dikhawatirkan informasi yang mereka peroleh tidak tepat dan dapat terjadi penyimpangan. Sehingga, anak-anak serta remaja sangat perlu diajarkan pendidikan seks agar tidak terjadi penyimpangan dalam pergaulan bebas. 

Pendidikan Seks

peduli-aidsPendidikan seks atau pendidikan mengenai kesehatan reproduksi (kespro) atau istilah kerennya sex education sudah seharusnya diberikan kepada anak-anak yang sudah beranjak dewasa atau remaja, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Ini penting untuk mencegah biasnya pendidikan seks maupun pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Materi pendidikan seks bagi para remaja ini terutama ditekankan tentang upaya untuk mengusahakan dan merumuskan perawatan kesehatan seksual dan reproduksi serta menyediakan informasi yang komprehensif termasuk bagi para remaja.

Pendidikan seks yang dilakukan sejak dini dapat menekan laju angka penderita penyakit kelamin, AIDS dan aborsi yang dilakukan kalangan remaja. Bahkan juga bisa mencegah terjadinya perilaku penyimpangan seks. Materi pendidikan seks tidak perlu ditutup-tutupi, karena akan menjadikan siswa bertambah penasaran dan ingin mencobanya. Namun, perlu juga disertai penjelasan akibat seks itu sendiri.

Ada dua faktor mengapa sex education sangat penting bagi remaja. Faktor pertama adalah di mana anak-anak tumbuh menjadi remaja, mereka belum paham dengan sex education, sebab orang tua masih menganggap bahwa membicarakan mengenai seks adalah hal yang tabu. Sehingga dari ketidakpahaman tersebut para remaja merasa tidak bertanggungjawab dengan seks atau kesehatan anatomi reproduksinya.

Faktor kedua, dari ketidakpahaman remaja tentang seks dan kesehatan anatomi reproduksi mereka, di lingkungan sosial masyarakat, banyak yang menawarkan hanya sebatas komoditi, seperti media-media yang menyajikan hal-hal yang bersifat pornografi, antara lain DVD, majalah, internet, bahkan tayangan televisi pun saat ini sudah mengarah kepada hal yang seperti itu. Dampak dari ketidakpahaman remaja tentang sex education ini, banyak hal-hal negatif terjadi, seperti tingginya hubungan seks di luar nikah, kehamilan yang tidak diinginkan, penularan virus HIV/AIDS dan sebagainya. Dengan belajar tentang sex education, diharapkan remaja dapat menjaga organ-organ reproduksi pada tubuh mereka dan orang lain tidak boleh menyentuh organ reproduksinya khususnya bagi remaja putri.

Peer Education

Diera globalisasi seperti ini, banyak terjadi penyimpangan sehingga terjadi pergaulan bebas. Para remaja yang sudah masuk dalam pergaulan bebas dalam hal ini seks bebas akan menutup dirinya. Sehingga tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada dirinya. Permasalahan yang muncul pada dirinya akibat pergaulan yang salah tidak dapat dideteksi dan dicari jalan keluar. Akibatnya remaja akan terus terjun dalam pergaulan bebas. Pendidikan seks formal seperti di sekolah misalnya, tidak dapat memecahkan permasalahan tersebut karena hanya berjalan satu arah dari guru kepada siswanya. Hal itu dimungkinkan siswanya masih malu untuk mengutarakan seputar masalah kesehatan reproduksi yang ada pada dirinya. Diperlukan metode pendidikan seks yang dapat berjalan dua arah. Metode tersebut dilakukan dengan pendidikan sebaya.

Pendidikan yang dilakukan dengan teman sebaya bisa dimulai dengan berdiskusi langsung tentang kesehatan reproduksi. Dengan cara yang lebih akrab atau curhat, mungkin orang pun tidak perlu malu-malu lagi. Hal ini dikarenakan dengan teman sebaya kita akan merasa lebih nyaman, percaya dan bisa menjamin kerahasiaan. Disinilah celah untuk memasukkan pendidikan kesehatan reproduksi.

Peer Education (pendidikan sebaya) ini merupakan suatu proses komunikasi, informasi dan edukasi yang dilakukan oleh dan untuk kalangan yang sebaya yaitu kalangan satu kelompok, ini dapat berarti kelompok sebaya pelajar, kelompok mahasiswa, sesama rekan profesi, jenis kelamin. Kegiatan sebaya dipandang sangat efektif dalam rangka KIE penanggulangan HIV/AIDS, karena penjelasan yang diberikan oleh seseorang dari kalangannya sendiri akan lebih mudah dipahami.

Model pembelajaran yang diterapkan dalam pendidikan sebaya adalah komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE). Pendidikan sebaya diidentifikasi sebagai sarana penting menyebarkan informasi tentang HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi. Karena terkait masalah seks sering sulit untuk dibahas secara terbuka dan adanya hambatan untuk menyampaikan kesehatan reproduksi secara formal. Pendidikan sebaya dapat mengatasi beberapa kesulitan, dapat mentransfer pengetahuan dan komunikasi dilakukan lebih bebas dan secara terbuka dalam kelompok sebaya.

Dalam melaksanakan pendidikan sebaya, dibuat kelompok-kelompok kecil dimana didalam kelompok tersebut beranggotakan orang yang sama usianya. Dalam kelompok tersebut terdapat satu orang yang benar-benar paham akan kesehatan reproduksi, setidaknya lebih  tahu daripada anggota kelompok yang lain. Nantinya satu orang tersebut akan menjadi semacam konsultan/tentor dalam kelompok itu. Sehingga diperlukan pelatihan bagi konsultan dalam masing-masing kelompok.

Pendekatan pendidikan sebaya mempunyai sejumlah keuntungan, yaitu: Pendidikan sebaya dapat menyampaikan pesan-pesan sensitif di dalamnya. Pendidikan sebaya merupakan peran serta masyarakat dalam mendukung dan melengkapi program lain yang berkaitan dengan strategi masyarakat lainnya. Kelompok target lebih merasa nyaman berdiskusi dengan teman sebaya mengenai masalah pribadi mereka seperti seksualitas. Pendidikan sebaya memberikan pelayanan besar yang efektif dengan biaya sedikit.

Pendekatan melalui pendidikan sebaya ini diharapkan mampu menjawab hal-hal yang belum diketahui dan mentransfer pengetahuan mengenai segala hal tentang kesehatan reproduksi, termasuk didalamnya penyakit HIV/AIDS. Pendidikan sebaya ini merupakan langkah yang efektif, dilakukan pada kelompok-kelompok kecil dimana didalamnya terdapat anggota kelompok yang sebaya. Sehingga dengan adanya kelompok sebaya ini, keresahan dan ketidaktahuan anggota kelompok dapat diutarakan tanpa ada yang disembunyikan. Berbagai permasalahan dapat dicari jalan keluar secara bersama. Seperti yang kita tahu, dengan teman sebaya kita akan lebih terbuka mengenai informasi diri kita sendiri dibandingkan dengan orang yang lebih tua terlebih dalam hal kesehatan reproduksi. Sehingga dengan adanya pendidikan sebaya dapat mengurangi penyebaran HIV/AIDS. []

About pianhervian

Aku hanyalah manusia biasa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP angakatan 2009.... Ingin belajar dan berbagi Cerita dan Informasi di dunia maya....

Posted on 13 Desember 2012, in Tugas Kuliah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: