Bukan Sekedar ‘Coklat’

Bagi sebagian orang coklat itu makanan yang luar biasa enak, manis, dan bisa membuat mood pun jadi senang. Namun bagi sebagian orang yang tidak suka coklat, ketika dihadapkan dengan coklat sedikit saja pasti tidak mau, apalagi dalam jumlah yang banyak. Nah, bagi sebagian orang coklat itu biasa saja, kadang suka kadang tidak suka, yah sesuai selera mereka lah seperti saya hehehe. Menurut saya, coklat itu enak apabila dikonsumsi dalam jumlah sedikit, kalo dalam jumlah yang besar pasti akan enek waktu memakannya. Mungkin sudah ada coklat yang bukan sekedar coklat. Ketika dikonsumsi dalam jumlah besar dan dalam jangka waktu panjang, si coklat ini tidak membuat enek bahkan bagi mereka yang tidak suka coklat pun perlahan dapat mencicipi nikmatnya si coklat ini.

Nah, coklat diatas ibarat ‘coklat’ dari gerakan kepanduan yang ada di Indonesia, Pramuka. Tidak sedikit orang yang tidak terlalu antusias dengan gerakan pramuka, malah kadang ada yang mencibir gerakan ini. Yah, maklum karena mereka tidak tahu rasa nikmat dari ‘coklat’ yang satu ini. Dan banyak juga dari masyarakat yang menyukai dan mendukung akan adanya gerakan ini karena mereka tahu bagaimana lezatnya menikmati ‘coklat’ ini dan banyak manfaat yang dirasakan dengan adanya ‘coklat’ ini.

‘Coklat’ yang digambarkan dengan tunas kelapa di ingkungan perguruan tinggi memang berbeda dari ‘coklat’ pada tingkatan sebelumnya. Pada tingkatan sebelumnya, banyak sekali ditemukan berbagai kegiatan yang memang sangat mencuri perhatian para penikmatnya. Seperti berbagai lomba kepramukaan, pioneering, morse, semaphore. Penikmat ‘coklat’ ini sangat antusias ketika mengikuti kegiatan sejenis ini, namun ini terjadi pada tingkatan sebelum memasuki lingkungan perti. Ketika ‘coklat’ memasuki lingkungan perti, kepopuleran ‘coklat’ menurun. Lihat saja mereka yang dulu menyebut dirinya sebagai penikmat ‘coklat’ tapi setelah di lingkungan perti ia tidak ingin terlalu kecanduan dengan ‘coklat’. Yah mereka beranggapan bahwa kegiatan pada tingkat ini sangat membosankan dan berbeda pada tingkatan sebelumnya. Banyak waktu yang terbuang hanya untuk rapat, dan ketika mengadakan kegiatan pun hanya terkesan itu-itu saja, sebatas kegiatan ‘coklat’ yang sama seperti tingkatan sebelumnya. Dan terkadang bagi mereka yang hanya biasa saja dengan ‘coklat’, ketika menikmati ini terlalu lama akan membuat enek, capek dan bosan. Lalu bagaimana agar supaya ‘coklat’ ini disukai semua orang dan tidak membuat bosan  dan enek para penikmat ‘coklat’ di lingkungan perti?

Masyarakat di lingkungan perti ini dikenal dengan kaum intelektual. Tingkatan perti lebih tinggi daripada di sekolah menengah, pemikiran yang semakin dewasa pula yang seharusnya membuat kegiatan yang tidak hanya untuk kesenangan sendiri melainkan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Pengabdian masyarakat menjadi salah satu aspek pada Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sehingga dengan ‘coklat’ inilah dapat menjadi sarana untuk mengabdi kepada masyarakat. Nah, bagi penikmat ‘coklat’ harusnya sekreatif mungkin untuk memadukan ‘coklat’ dengan unsur intelektualitas. Seperti yang ada di ITS, penikmat ‘coklat’ mampu mengadakan kegiatan yang menjadi ciri khas mereka yang bertema teknologi tepat guna. Kegiatan ini pun juga mengarah kepada pengabdian masyarakat, karena hasil yang didapatkan pada kegiatan ini diharapkan dapat diterapkan pada masyarakat luas untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lain halnya di ITS, di Undip, para penikmat ‘coklat’ dulu pernah mengadakan kegiatan yang memang dapat membantu sebuah desa untuk mengoptimalkan potensi desa yang ada. Inilah sebuah inovasi kegiatan yang dipadukan dengan ilmu-ilmu yang ada di Perti. Selain itu, untuk mengadakan suatu kegiatan yang mempunyai manfaat besar pada masyarakat hendaknya sesuai dengan issu yang sedang berkembang.

Misalnya, salah satu issu mengenai kesehatan yang mana jumlah penderita HIV Aids melonjak setiap tahunnya. Dengan issu seperti ini penikmat ‘coklat’ dapat saja membuat suatu kegiatan yang bertujuan untuk menginformasikann atau mensosialisasikan segala hal yang berhubungan dengan penyakit ini. Sehingga harapannya masyarakat mampu menjaga diri agar tidak terkena penyakit ini dan mampu menurunkan penularan penyakit ini. Sebuah kegiatan tidak harus selalu besar dan berskala nasional maupun internasional, namun kegiatan yang kecil tapi mempunyai manfaat besar itu akan lebih baik. Dengan kegiatan sederhana bisa mempunyai dampak yang luar biasa.

Harapannya, dengan adanya inovasi-inovasi kegiatan dalam kepanduan ini dapat mengubah mindset bagi mereka yang tidak berselera untuk mencicipi nikmatnya ‘coklat’. Sehingga kedepannya akan banyak yang mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan ini. Yah, inilah sedikit cara untuk mengolah ‘coklat’ agar lebih bisa dinikmati orang banyak dengan berbagai inovasi didalamnya.. Selamat mencoba!!😀

Salam

[pianHervian]

*mohon maaf apabila dalam penulisan diatas terdapat kekeliruan dan kesalahan*

About pianhervian

Aku hanyalah manusia biasa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP angakatan 2009.... Ingin belajar dan berbagi Cerita dan Informasi di dunia maya....

Posted on 11 November 2012, in Serba-serbi. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. mbak An juga suka coklatttt😉

  2. maaf.. ga paham..heheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: