Pancaroba Tiba, Waspada DBD

Panas..panas..panas.. itulah yang sering dieluh-eluhkan insan yang ada di bumi Indonesia, khususnya warga Semarang, ini akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Yah itulah sifat manusia , sering mengeluh, tapi tak apalah memang bener-bener panas kok..hhehe. Setelah penantian panjang dan telah sekian lama menunggu datangnya hujan, akhirnya 2 malam ini Semarang diguyur hujan khususnya Tembalang (daerah sekitar Undip)…yeay!! Alhamdulillah.. Tembalang jadi adeemm😀

Hujan yang turun di daerah Semarang ini patut disyukuri, mengingat beberapa daerah lain di Jawa Tengah masih belum mendapat nikmatnya hujan ini. Hujan yang turun ini membawa berkah bagi semua umat yang ada di daerah Semarang. Sumur kembali terisi air, tumbuhan layu mulai bersemi dan kekeringan perlahan akan berubah menjadi lebih baik dari kondisi sebelumnya.

Namun perlu diingat, hujan yang turun ini dapat menimbulkan dampak yang buruk. Itupun karena tidak lain akibat ulah manusia. Hujan yang turun dengan intensitas yang tinggi dapat menyebabkan banjir bahkan tanah longsor dibeberapa tempat di dataran tinggi. Sebagai manusia yang bersyukur atas nikmat-Nya, alangkah lebih baiknya kita juga menjaga alam ini apalagi pada musim seperti ini. Misalnya dengan tidak membuang sampah ke kali sehingga banjir pun bisa diatasi, menanam pohon di daerah pegunungan untuk menghindari tanah longsor.

Turunnya hujan beberapa hari terakhir ini juga menandai bahwa wilayah Indonesia memasuki musim pancaroba, dimana masa peralihan antara dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Hal ini mengabarkan kepada kita agar waspada terhadap wabah penyakit yang berkembang saat musim pancaroba ini. Salah satu wabah penyakit yang memiliki tren yang tinggi pada musim pancaroba adalah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Penyakit DBD ini akan berkembang sangat pesat pada musim pancaroba seperti ini. Karena penularan penyakit DBD ini dilakukan oleh vektor berupa Nyamuk. Nyamuk yang sudah terinfeksi virus DBD ini dapat menurunkan virusnya kepada keturunannya. Telur-telur nyamuk biasanya dapat bertahan pada musim kemarau yang panjang, telur ini tidak mati dan masih dalam kondisi hidup. Telur nyamuk ini akan menetas jika berada dilingkungan yang lembab atau tergenang air, ketika memasuki musim penghujan seperti ini-musim pancaroba-telur nyamuk tersebut akan menetas. Bisa dibayangkan jika telur nyamuk yang membawa virus DBD menetas? Ini akan berdampak pada penularan DBD yang meningkat.

Oleh karena itu, pada musim pancaroba seperti ini, kita perlu waspada dan menyiapkan berbagai langkah untuk mencegah penularan DBD. Beberapa langkah yang dapat dilakukan dengan aktivitas 3M+ yaitu Menguras, Mengubur, Menutup dan Abatisasi. Membuang sampah pada tempatnya, bukan membuang sembarangan/dikali dapat mengurangi risiko peningkatan jumlah populasi nyamuk vektor. Selain itu, pemasangan kelambu pada tempat tidur, memasukan ikan pada tempat yang tergenang air, menanam tanaman pengusir nyamuk juga dapat dilakukan.

Hujan memang membawa berkah, namun kita perlu waspada dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, terutama penyakit menular yang berkembang pada musim peralihan seperti ini. Semoga informasi yang sedikit dan singkat ini dapat membantu kita dalam mengurangi tingkat penyebaran penyakit DBD…

Salam sehat!!.. pianHervian.

About pianhervian

Aku hanyalah manusia biasa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP angakatan 2009.... Ingin belajar dan berbagi Cerita dan Informasi di dunia maya....

Posted on 5 Oktober 2012, in Epidemiologi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: