Meneladani Nasionalisme di Daerah Perbatasan

Mohon maap jikalau tulisannya ngalor ngidul… hhehhe

Tulisan ini merupakan hasil bayangan atau khayalan saya akan kehidupan warga negara yang hidup di perbatasan antar dua negara disertai bumbu-bumbu dari berbagai sumber. Yah, tulisan ini terinspirasi dari film Tanah Surga…Katanya. Namun saya sendiri pun belum menonton film tersebut, hanya sebatas membaca dari sinopsisnya saja.

Pada umumnya daerah perbatasan negara ini merupakan daerah yang didominasi dengan keterbelakangan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Mereka yang ditinggal diperbatasan sangat sulit dalam mendapatkan fasilitas-fasilitas yang sama seperti apa yang kita dapatkan. Listrik, pendidikan, bahkan kesehatan merupakan hal yang mewah bagi mereka. Mereka harus berjuang untuk bisa mempertahankan hidup di daerah perbatasan.

Tidak bisa saya bayangkan bagaimana saya harus hidup di daerah perbatasan antar dua negara. Hidup jauh dari hiruk pikuk perkotaan, jauh dari perhatian pemerintah. Untuk sampai ditempat mereka pun harus melewati hutan, sungai yang tak dapat diakses dengan alat transportasi apapun. Hidup di daerah perbatasan tak kenal alat komunikasi, jangankan Android, BBM, atau apalah itu, cahaya lampu untuk memecah kegelapan malam pun tak dapat dijumpai, hanya sinar bulan sebagai cahaya malam. Dijaman seperti ini banyak orang bilang jaman millennium, mereka seakan masih hidup dijaman nenek moyang kita (jaman purba-red).

Bisa saja mereka dengan pindah ke Negara Tetangga dengan fasilitas-fasilitas yang dapat membuat hidup mereka lebih baik. Tak sedikit bagian dari mereka pindah ke negara lain karena tergiurkan akan fasilitas kehidupan. Fasilitas yang ditawarkan pun tidak begitu jauh berbeda namun setidaknya mereka bisa hidup lebih baik dari pada di negara sendiri.

Namun sebagian dari mereka, meskipun mereka jauh dari perhatian pemerintah, meskipun mereka harus hidup mati-matian untuk mempertahankan hidup mereka, mereka tetap bangga menjadi bagian dari Bangsa dan Negara dimana mereka dilahirkan. Mereka dengan setia menjaga tanah Negara agar tidak jatuh ditangan Negara Tetangga. Ya, itulah Nasionalisme yang patut kita contoh, nasionalisme murni dari hati seorang anak bangsa. Saya begitu kagum akan hal ini.

Akan tetapi, patutlah pemerintah memperhatikan hak dan kewajiban merekaa yang ada di daerah perbatasan sebagai warga negara. Memberikan fasilitas-fasilitas yang memang layak untuk warga negaranya. Bukan meremehkan jiwa nasionalisme mereka terhadap bangsa ini, tapi sebagai manusia pasti akan jenuh dan bisa saja mereka ikut pindah. Ini tidak hanya menjadi tugas pemerintah namun menjadi tugas kita semua.😀 bagaimana caranya?? Mari kita renungkan dan pikirkan bersama… hehe

Sangat begitu jauh kondisinya jika daerah perbatasan negara dibandingkan dengan di perkotaan. Di kota dengan semua fasilitas yang ada, justru warga negaranya tidak terlihat jiwa nasionalisme. Mereka hidup ya untuk hidupnya sendiri, sebagian dari mereka hampir tak peduli dengan bangsanya. Banyak yang mengaku mempunyai jiwa nasionalisme tapi ujung-ujungnya mempunyai alasan tertentu. Apakah kita tidak malu dengan mereka yang ada di daerah perbatasan?. Marilah kita sebar semangat nasionalisme ke semua, banyak cara untuk mewujudkan semangat nasionalisme kita. Mulailah dari diri sendiri😀 “Mulai menyalakan lilin kecil untuk lingkungan disekitar kita”… Salam.. hehe

(sumber : dari berbagai sumber)

*gak nyambung ya ama judul tulisannya hhhahhaaa :p*

About pianhervian

Aku hanyalah manusia biasa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP angakatan 2009.... Ingin belajar dan berbagi Cerita dan Informasi di dunia maya....

Posted on 24 Agustus 2012, in Refreshing, Serba-serbi, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: