Studi Kasus Paparan Panas (Heat Stress) pada Pengangkut Pasir

KASUS

Seorang pemuda 20 tahun baru 10 hari bekerja sebagai pengangkut pasir. Ia jatuh sakit karena kelelahan dan ototnya terasa pegal semua. Di tempat kerjanya udaranya sangat panas dan berdebu. Saat ia bekerja jantungnya berdenyut sangat cepat 120 X permenit.

PENJELASAN

Dari kasus tersebut, Pemuda merasa kelelahan, otot pegal dan denyut jantung mencapai 120 kali per menit dapat disebabkan karena berbagai faktor di tempat kerja. Salah satu faktor penyebab pemuda merasakan berbagai keluhan tersebut adalah paparan panas. Karena pemuda dalam melakukan pekerjaannya terpapar panas dari lingkungan

.
Kelelahan dan otot terasa pegal dapat terjadi karena tubuh manusia yang berdarah panas, mempunyai sistem untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap konstan, meskipun tubuh terpajan oleh berbagai tingkat temperatur dari lingkungan. Untuk menjaga agar suhu tubuh berada pada batas yang aman, tubuh harus melepaskan atau membuang kelebihan panasnya. Proses yang utama adalah melalui sirkulasi darah dan pengeluaran keringat. Respon otomatis pengaturan panas tubuh biasanya terjadi jika temperature darah melebihi 98,6°F dan pengaturan serta pengendalian temperatur tubuh dilakukan oleh otak.
Pengeluaran keringat oleh tubuh bukan untuk mendinginkan tubuh tapi untuk mengeluarkan cairan dari kulit melalui proses evaporasi. Pada kondisi kelembaban yang tinggi, proses evaporasi keringat dari kulit akan menurun dan upaya tubuh untuk menjaga temperatur tubuh pada batas yang bisa diterima akan menjadi terganggu. Kondisi ini akan dapat mengganggu kemampuan kerja individu yang bekerja di lingkungan yang panas. Dengan banyaknya darah yang mengalir ke permukaan tubuh bagian luar, akan menyebabkan penurunan aktivitas otot, otak, organ internal, penurunan kekuatan, dan fatigue yang terjadi lebih cepat.
Selain itu, aklimatisasi atau proses penyesuaian diri terhadap panas juga dapat menyebabkan kelelahan. Aklimatisasi merupakan proses adaptasi secara fisologis dan psikologis yang terjadi sehingga seseorang menjadi terbiasa untuk bekerja pada lingkungan kerja yang panas. Peningkatan penyesuaian terjadi seiring dengan makin lamanya terpajan oleh panas dan penurunan tingkat efek (strain) yang dirasakan. Peningkatan daya toleransi terhadap panas membuat seseorang menjadi lebih efektif dalam bekerja pada kondisi yang mungkin mengganggu sebelum terjadi aklimatisasi. Seseorang yang terpajan oleh panas lingkungan kerja akan terlihat tanda-tanda seperti tertekan dan tidak nyaman, peningkatan suhu tubuh dan denyut nadi, sakit kepala, perasaan mau mabuk, hilang kesadaran, dan beberapa tanda lainnya seperti heat exhaustion.
Sebelum terjadinya pajanan yang berulang, terdapat tanda adaptasi dimana terjadi perubahan fisiologis dengan peningkatan keringat secara efisien yang secara bersamaan akan menimbulkan sirkulasi yang stabil. Setelah terpajan panas beberapa hari seseorang yang melakukan pekerjaan yang sama akan mengalami penurunan suhu tubuh dan denyut nadi, namun terjadi peningkatan keringat (penurunan tekanan pada termoregulator), dan tidak ada tanda-tanda tertekan seperti yang dialami sebelumnya.
Aklimatisasi penuh terhadap panas terjadi pada pajanan harian yang relatif singkat. Minimum waktu pajanan untuk dapat beraklimatisasi terhadap panas adalah 100 menit perhari secara kontinyu. Namun dalam kasus diatas, memungkinkan bahwa pemuda tersebut tidak melakukan penyesuaian diri dari lingkungan kerja yang panas. Kemungkinan pemuda tersebut pada hari pertama sampai dengan hari ke sepuluh selalu bekerja 100% sesuai dengan jam kerja tanpa ada penyesuaian diri pada hari minggu pertama kerja.
NIOSH, menyarankan untuk selalu melakukan aklimatisasi yang rutin, yaitu : Pekerja yang tidak aklimatisasi seharusnya diaklimatisasi dengan periode lebih dari 6 hari. Jadwal aklimatisasi dimulai dengan pajanan 50% untuk mengantisipasi kelebihan beban kerja dan waktu pajanan pada hari pertama. Pada hari berikutnya ditingkatkan 10% setiap harinya, sehingga mencapai 100% pada hari keenam.
Naiknya denyut jantung mencapai 120 kali permenit juga merupakan akibat dari aktivitas kerja dan berada pada lingkungan kerja yang panas. Denyut jantung tersebut tidak normal karena denyut jantung normal manusia adalah 60-80 kali per menit. Aktivitas kerja manusia dan berada pada lingkungan panas dapat merangsang jantung untuk berkontraksi lebih cepat. Hal ini sesuai dengan teori tentang denyut nadi jantung dalam Psysiologi Bases of Exercise bahwa latihan yang lama pada lingkungan yang panas menyebabkan denyut jantung lebih tinggi daripada latihan pada temperature rendah menurut P.O. Astrand, 1961
Denyut jantung dapat berubah karena meningkatnya Cardiac Output (curahan jantung) yang diperlukan otot yang sedang bekerja dan karena penambahan strain pada aliran darah karena terpapar panas.
Pada saat bekerja terjadi peningkatan metabolisme sel –sel otot sehingga aliran darah meningkat untuk memindahkan zat –zat makanan dari darah yang dibutuhkan jaringan otot. Semakin tinggi aktivitas maka semakin meningkat metabolisme otot sehingga curah jantung akan meningkat untuk mensuplai kebutuhan zat makanan melalui peningkatan aliran darah. Peningkatan curah jantung akan meningkatkan frekwensi denyut jantung yang akan meningkatkan denyut nadi pada akhirnya. Selain itu iklim kerja yang panas juga meningkatkan kinerja jantung untuk untuk mengalirkan darah ke kulit untuk meningkatkan penguapan keringat dalam rangka mempertahankan suhu tubuh.

SOLUSI
1. Aklimatisasi
a. Pekerja yang tidak aklimatisasi seharusnya diaklimatisasi dengan periode lebih dari 6 hari. Jadwal aklimatisasi dimulai dengan pajanan 50% untuk mengantisipasi kelebihan beban kerja dan waktu pajanan pada hari pertama. Pada hari berikutnya ditingkatkan 10% setiap harinya, sehingga mencapai 100% pada hari keenam.
b. Pekerja yang secara tetap teraklimatisasi kemudian tidak terpajan 9 hari atau lebih seharusnya menjalani periode aklimatisasi selama 4 hari. Jadwal aklimatisasi dimulai dengan pajanan 50% unutk mengantisipasi kelebihan pajanan pada hari pertama. Pada hari berikutnya ditingkatkan 20% setiap harinya, sehingga mencapai 100% pada hari keempat.
c. Pekerja yang secara tetap beraklimatisasi kemudian tidak terpajan selama 4 hari karena sakit seharusnya mendapat izin untuk kembali bekerja dan harus menjalani periode aklimatisasi selama 4 hari seperti pada poin b.
2. Penggantian Cairan
Air yang dingin (50° – 60°F) atau cairan yang dingin (kecuali alkohol) seharusnya disediakan untuk membantu mereka minum lebih sering, misalnya 1 gelas setiap 20 menit. Minuman yang mengandung garam mineral bukanlah hal yang penting terutama bagi pekerja yang sudah melakukan aklimatisasi.

About pianhervian

Aku hanyalah manusia biasa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP angakatan 2009.... Ingin belajar dan berbagi Cerita dan Informasi di dunia maya....

Posted on 20 September 2011, in Tugas Kuliah, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: