Food and Water Borne Disease > TIFOID

Disusun guna melengkapi tugas Dasar Pemberantasan Penyakit

oleh : Hervian Setyo Nugroho E2A009016

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Diponegoro

 

Definisi

Demam Tifoid adalah penyakit bakteri, yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Hal ini ditularkan melalui konsumsi makanan atau minuman terkontaminasi oleh feses atau urin orang yang terinfeksi. (1)

Demam Tifoid adalah infeksi bakteri pada saluran usus dan aliran darah. Gejala dapat ringan atau berat dan termasuk demam berkelanjutan setinggi 39 ° -40 ° C, malaise, anoreksia, sakit kepala, sembelit atau diare, bintik-bintik merah muda pada area dada dan pembesaran limpa dan hati. Kebanyakan orang menunjukkan gejala 1-3 minggu setelah terkena.(2)

Penyakit Demam Tifoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan. (3)

Demam tifoid merupakan penyakit sistemik yang disebabkan oleh bakteri ditandai dengan demam insidius yang berlangsung lama, sakit kepala yang berat, badan lemah, anoreksia, bradikardi relatif, splenomegali, pada penderita kulit putih 25% diantaranya menunjukkan adanya “rose spot” pada tubuhnya, batuk tidak produktif pada awal penyakit, pada penderita dewasa lebih banyak terjadi konstipasi dibandingkan dengan diare. Gejala lebih sering berupa gejala yang ringan dan tidak khas. Pada demam tifoid dapat terjadi ulserasi pada plaques peyeri pada ileum yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan atau perforasi (sekitar 1% dari kasus), hal ini sering terjadi pada penderita yang terlambat diobati. (4)

Di Amerika Serikat sekitar 400 kasus terjadi setiap tahun, dan 75% dari yang diperoleh saat bepergian internasional. Demam tifoid masih umum di dunia berkembang, dimana hal itu mempengaruhi sekitar 21,5 juta orang setiap tahun. (5) Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa. (3)

Epidemiologi

Penyakit ini tersebar merata diseluruh dunia. Insidensi penyakit demam tifoid diseluruh dunia mencapai 17 juta setahun dengan jumlah kematian sebanyak 600.000 orang. Di Amerika Serikat demam tifoid muncul sporadis dan relatif konstan berkisar antara 500 kasus setahun selama bertahun-tahun (bandingkan dengan demam tifoid yang dilaporkan sebanyak 2484 pada tahun 1950).Dengan memasyarakatnya perilaku hidup bersih dan sehat, memasyarakatnya pemakaian jamban yang saniter maka telah terjadi penurunan kasus demam Tifoid, dan yang terjadi di Amerika Serikat adalah kasus import dari daerah endemis. Sekarang sering ditemukan strain yang resisten terhadap kloramfenikol dan terhadap antibiotika lain yang umum digunakan untuk demam tifoid. 558 Kebanyakan isolat yang dikumpulkan pada tahun 90an dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika Timur Laut adalah strain yang membawa plasmid dengan faktor R yang membawa kode resistens terhadap berbagai jenis antibiotika yang dulu umum dipakai untuk mengobati demam tifoid seperti kloramfenikol, amoksisilin, trimetroprim/sulfametoksasol. Demam paratifoid muncul secara sporadis atau muncul sebagai KLB terbatas, mungkin juga kejadiannya lebih banyak daripada yang dilaporkan. (4)

Etiologi

Demam tifoid disebabkan oleh S. typhi, basil Tifoid. Salmonella typhi hanya hidup pada manusia. Orang dengan demam tipus membawa bakteri dalam aliran darah dan saluran usus. Selain itu, sejumlah kecil orang, disebut carrier sembuh dari demam tifoid namun tetap membawa bakteri. Kedua orang sakit dan operator gudang Salmonella typhi dalam kotorannya (tinja).(5)

Manusia dapat terkena demam tifoid jika mengonsumsi minuman makanan atau minuman yang telah ditangani oleh orang yang terinfeksi Salmonella typhi atau jika limbah terkontaminasi dengan bakteri Salmonella typhi masuk ke air yang Anda gunakan untuk minum atau mencuci makanan. Oleh karena itu, demam tifoid lebih sering terjadi di wilayah di dunia di mana cuci tangan yang kurang sering dan air mungkin terkontaminasi dengan limbah.(5)

Mekanisme Penularan

Penularan terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh tinja dan urin dari penderita atau carrier. Dibeberapa negara penularan terjadi karena mengkonsumsi kerang-kerangan yang berasal dari air yang tercemar, buah-buahan, sayur-sayuran mentah yang dipupuk dengan kotoran manusia, susu dan produk susu yang terkontaminasi oleh carrier atau penderita yang tidak teridentifikasi. Lalat dapat juga berperan sebagai perantara penularan memindahkan mikroorganisme dari tinja ke makanan. Di dalam makanan mikroorganisme berkembang biak memperbanyak diri mencapai dosis infektif. (4)

Masa inkubasi tergantung pada besarnya jumlah bekteri yang menginfeksi; masa inkubasi berlangsung dari 3 hari sampai dengan 1 bulan dengan rata-rata antara 8 – 14 hri. Untuk gastroenteris yang disebabkan oleh paratifoid masa inkubasi berkisar antara 1 – 10 hari. (4)

Selama basil ditemukan didalam tinja selama itu dapat terjadi penularan, biasanya terjadi penularan pada minggu pertama sakit dan selama periode konvalesens; waktu ini dapat bervariasi (untuk paratifoid biasanya masa penularan berlangsung antara 1 – 2 minggu) sekitar 10% dari penderita demam tifoid yang tidak diobati selama tiga bulan akan terus menerus mengeluarkan basil setelah munculnya gejala awal dan 2 – 5% penderita akan menjadi carrier kronis. (4)

Pencegahan

Dua dasar tindakan yang dapat melindungi manusia dari demam tifoid:

1. Menghindari makanan dan minuman berisiko.

2. Mendapatkan divaksinasi terhadap demam tipus.

Untuk dapat mencegah penyakit ini harus tahu terlebih dahulu cara penularan dan faktor resikonya. Bakteri S typhi menular melalui jalur oro-fekal, artinya bakteri masuk melalui makanan atau minuman yang tercermar oleh feses yang mengandung S typhi. Di negara endemis seperti Indonesia, faktor resikonya antara lain makan makanan yang tidak disiapkan sendiri di rumah (karena tidak terjamin kebersihannya), minum air yang terkontaminasi, kontak dekat dengan penderita tifoid, sanitasi perumahan yang buruk, higiene perorangan yang tidak baik dan penggunaan antibiotik yang tidak tepat. (6)

Oleh karena itu, pencegahan yang paling sederhana adalah dengan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air, menyiapkan makanan sendiri, tidak buang air besar sembarangan (di negara kita masih banyak keluarga yang tidak memiliki jamban sendiri), memasak makanan terlebih dahulu, bijak dalam menggunakan antibiotik. (6)

Selain hal-hal di atas, saat ini sudah tersedia vaksin untuk tifoid. Ada 2 macam vaksin, yaitu vaksin hidup yang diberikan secara oral (Ty21A) dan vaksin polisakarida Vi yang diberikan secara intramuskular/disuntikkan ke dalam otot. Menurut FDA Amerika, efektivitas kedua vaksin ini bervariasi antara 50-80 %. (6)

Vaksin hidup Ty21A diberikan kepada orang dewasa dan anak yang berusia 6 tahun atau lebih. Vaksin ini berupa kapsul, diberikan dalam 4 dosis, selang 2 hari. Kapsul diminum dengan air dingin (suhunya tidak lebih dari 37 oC), 1 jam sebelum makan. Kapsul harus disimpan dalam kulkas (bukan di freezer). Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada orang dengan penurunan sistem kekebalan tubuh (HIV, keganasan). Vaksin juga jangan diberikan pada orang yang sedang mengalami gangguan pencernaan. Penggunaan antibiotik harus dihindari 24 jam sebelum dosis pertama dan 7 hari setelah dosis keempat. Sebaiknya tidak diberikan kepada wanita hamil. Vaksin ini harus diulang setiap 5 tahun. Efek samping yang mungkin timbul antara lain, mual, muntah, rasa tidak nyaman di perut, demam, sakit kepala dan urtikaria. (6)

Vaksin polisakarida Vi dapat diberikan pada orang dewasa dan anak yang berusia 2 tahun atau lebih. Cukup disuntikkan ke dalam otot 1 kali dengan dosis 0,5 mL. Vaksin ini dapat diberikan kepada orang yang mengalami penurunan sistem imun. Satu-satunya kontra indikasi vaksin ini adalah riwayat timbulnya reaksi lokal yang berat di tempat penyuntikkan atau reaksi sistemik terhadap dosis vaksin sebelumnya. Vaksin ini harus diulang setiap 2 tahun. Efek samping yang mungkin timbul lebih ringan dari pada jika diberikan vaksin hidup. Dapat timbul reaksi lokal di daerah penyuntikkan. Tidak ada data yang cukup untuk direkomendasikan kepada wanita hamil. (6)

 

Referensi:

1)      WHO. Typhoid fever. Available from http://www.who.int/topics/typhoid_fever/en/

2)      WHO. Water – related disease. Available from http://www.who.int/water_sanitation_health/diseases/typhoid/en/

3)      Soegeng Soegijanto. 2002. Demam Tifoid. Ilmu Penyakit Anak Diagnosa dan Edisi Penatalaksanaanya. EdisiPertama. Salemba Medika: Jakarta

4)      I Nyoman Kandun. 2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular Edisi 17

5)      CDC. Typhoid fever. Available from http://www.cdc.gov/nczved/divisions/dfbmd/diseases/typhoid_fever/index.html

6)      http://ehsablog.com/76.html

 

About pianhervian

Aku hanyalah manusia biasa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP angakatan 2009.... Ingin belajar dan berbagi Cerita dan Informasi di dunia maya....

Posted on 20 Maret 2011, in Epidemiologi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: