(Jika) Aku Menjadi Loper Koran

Mungkin sebagian dari Anda menganggap bahwa ini merupakan bagian dari reality show yang ada di televisi. Bukan. Ini merupakan pengalaman saya ketika di jalanan menjajakan Koran kepada pengendara.

Tak pernah saya bayangkan dan tak pernah saya inginkan sebelumnya untuk menjadi loper Koran. Jualan di jalan menantang sengatan panas matahari dengan ditemani asap kendaraan dan debu. Namun hal itu saya alami selama 5 hari di jalanan..hehe

Berawal dari tawaran seorang Pemimpin Perusahaan (Pimprus) koran di semarang yang kebetulan adalah alumni dari organisasi yang saya ikuti. Beliau menawarkan kepada kami untuk mempromosikan koran. Promosi ini bertujuan untuk mengenalkan koran kepada masyarakat yang dulu terbit sore dan menjadi terbit pagi. Kami menyetujui untuk mengikuti program ini, ya itung-itung buat mengisi liburan disela-sela Semester Pendek..hehe

Hari pertama. Dengan semangat karena cerita dari Pimprus yang mana ada orang yang dapat menjual sekitar 50 eksemplar per hari, kami ber-4 langsung menuju tempat yang telah ditetapkan untuk kami. Perempatan POLDA. Sesampai di tempat, saya merasa minder untuk jualan, malu yang jelas. Yah, untuk pertama pasti malu. Kami jualan dari jam 07.00 sampai 10.30. Di tempat yang sama ada beberapa penjual koran yang lain dari koran yang berbeda namun harga setengah dari koran kami. Kami menawarkan dari kaca ke kaca mobil, dari pengendara satu ke pengendara yang lain bak penjual koran yang sudah pengalaman (hehe..). Rasa malu pun hilang, dan saya mulai menikmatinya. Tetapi yang dicari pelanggan adalah koran yang lebih murah. Jelaslah. Panas, capek, pegel kami rasakan. Saya hanya berhasil menjual 7 eksemplar dan saya paling sedikit diantara kami. hmm tak apalah tetep semangat.

Hari kedua. Dengan semangat yang sama kami berjualan tetapi kami berpencar, saya tetap di perempatan POLDA dan yang lain di perempatan dekat RRI. Namun di hari ini perasaan saya tidak begitu enak. Akhirnya saya dan teman saya mencari tempat lain. Belum mendapatkan tempat jualan kami ditelpon dari pihak koran untuk berkumpul. Kami dipindah ke Tugu Muda karena ada sesuatu hal. Cuaca nampaknya tak bersahabat, dan meneteskan air hujan. Dan kami terpaksa berteduh dan pulang. Lagi-lagi hanya terjual 6 eksemplar, lebih sedikit memang.

Hari ketiga. Semangat mulai surut akibat hari kemaren. hari ketiga ini kami ber-4 ditempatkan di perempatan dekat RRI. Saya di lampu merah dari arah barat. Hampir 3 jam menawarkan ke pengendara motor dan mobil namun na’as tidak laku sama sekali. Memang sulit sekali di hari itu. Hal itu memang dibenarkan oleh teman-teman saya dan penjual koran lain-yang harga korannya setengah dari koran kami. Sepi. Hari ke empat tidak jauh berbeda ketimbang hari ketiga. Dengan pengalaman hari sebelumnya saya memilih untuk berjualan di Tugu Muda. Tapi..hanya 1 yang terjual, na’as banget saya ini. Yah, meskipun kami hanya membantu pihak Koran, tetapi kami merasa tidak enak juga kalau tidak bisa menjual sesuai target.

Oke..saya dan teman-teman memutuskan untuk terakhir jualan di jalanan. Hari ke lima, tetap di dekat RRI. Saya di lampu merah dari arah utara-stadion undip. Ternyata ini adalah hari keberuntungan saya, Allah memudahkan saya di hari terakhir ini. Dalam waktu 3 jam saya sudah menjual 13 koran. Not bad-lah bila dibandingkan hari sebelumnya yang begitu suram. Lalu kami menuju kantor sirkulasi koran tersebut dan menerima gaji.. horeee $_$. Oiya, keuntungan dari koran ini per eksemplar 700 rupiah dan berapapun yang terjual keuntungan mutlak untuk kami. dan kami juga mendapat uang transport…aseekk $_$

Banyak pelajaran, pengalaman dan cerita yang kami dapatkan. Ada yang ketemu Ust. Yusuf Mansur dan sempat berdiskusi di lampu merah. Ada yang ketemu teman, ada yang ketemu alumni organisasi tapi diacuhkan..haha semua hanya cerita ini hanya didapatkan di jalanan. Kita menjadi lebih tahu bagaimana kehidupan dari penjual Koran khususnya di perempatan POLDA. Sangat luar biasa semangat mereka. Mereka berjualan dari pagi hingga malam di lampu merah itu. Pagi hari mereka menjajakan Koran sampai habis, setelah habis mereka menjajakan hiasan mobil, kanebo, peta dan bahkan ada yang mengamen. Sebagian besar kehidupan mereka di jalanan.

Menyoroti dari kesehatan. Hazard atau biasa yang dikenal dengan risiko terkena kecelakaan akibat kerja sangat banyak. Antara lain, mereka berjualan di jalanan tanpa menggunakan masker, padahal di jalanan kota sangat banya kendaraan yang lewat dan menghasilkan asap dan debu. Tanpa masker tidak menutup kemungkinan asap dan debu terhirup dan dapat menyebabkan penyakit dalam tubuh terutama saluran pernafasan. Belum lagi taruhan nyawa jualan di jalanan. Mereka bisa sewaktu-waktu terserempet bahkan tertabrak kendaraan. Panas matahari dapat menyebabkan gangguan pada kulit. Dan banyak lagi hazard penjual Koran.

Yah, mungkin itu sedikit cerita dan pengalaman saya berserta teman-teman menjadi loper Koran. semoga kita pandai bersyukur atas nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita dan kita termasuk orang yang lebih beruntung daripada mereka yang hidup di jalanan. Eits tapi masih ada tawaran lagi dari pihak Koran, tunggu kelanjutannya yaa… hehe

Semangattt…!!!

oiya kamu juga sempat foto-foto hehe ini dia…tapi saya malah gak ada T.T

korannya mas..korannya..

korannya pakdhe...dau rebu bae..

korannya pakkk.....

jualan di Tugu Muda

About pianhervian

Aku hanyalah manusia biasa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP angakatan 2009.... Ingin belajar dan berbagi Cerita dan Informasi di dunia maya....

Posted on 18 Februari 2011, in Refreshing. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. ahahaha… kira2 lbh malu mana ya, nyari dana buat korban gunung meletus sama jual koran >_<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: