Analisis Masalah Manajemen Puskesmas di Langkahan dan Sawang, Aceh Utara

Oleh : Hervian Setyo Nugroho

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Organisasi Manajemen Kesehatan.

 

Kesehatan merupakan hak dasar setiap warga, baik setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya. Oleh karena itu, pemerintah bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan demi terwujudnya masyarakat yang sehat. Pelayanan kesehatan dibedakan dalam dua golongan, yakni 1) Pelayanan kesehatan primer (primary health care), atau pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan kesehatan yang paling depan, yang pertama kali diperlukan masyarakat pada saat mereka mengalami ganggunan kesehatan atau kecelakaan. 2) Pelayanan kesehatan sekunder dan tersier (secondary and tertiary health care), adalah rumah sakit, tempat masyarakat memerlukan perawatan lebih lanjut (rujukan).

Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang diselenggarakan pemerintah adalah pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan. Puskesmas juga merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia sehingga mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.

Manajemen Puskesmas

Untuk menghasilkan luaran Puskesmas yang efektif dan efisien maka diperlukan adanya manajemen puskesmas. Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan Puskesmas membentuk fungsi-fungsi manajemen. Ada 3 (tiga) fungsi manajemen Puskesmas yang dikenal yakni Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengendalian, serta Pengawasan dan Pertangungjawaban. Semua fungsi manajemen tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan berkesinambungan (Departemen Kesehatan, 2004).

Dari  beberapa pengertian manajemen yang ada dapat disimpulkan bahwa:

1.      Manajemen puskesmas merupakan proses pencapaian tujuan Puskesmas.

Untuk mencapai tujuan Puskesmas secara efektif dan efisien, pimpinan Puskesmas dituntut untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, yaitu fungsi-fungsi yang harus dilaksanakan oleh pimpinan Puskesmas secara terorganisasi, berurutan dan berkesinambungan. Fungsi manajemen yang digunakan oleh Puskesmas diadaptasi dari fungsi manajemen yang dikemukakan oleh Terry dengan penambahan fungsi evaluating (Penilaian), sehingga fungsi-fungsi manajemen Puskesmas adalah sebagai berikut: Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Penggerakan Pelaksanaan), Controlling (Pengawasan/Pembimbingan), Evaluating (Penilaian).

2.      Manajemen puskesmas merupakan proses menselaraskan tujuan organisasi dan tujuan pegawai Puskesmas (management by objectives atau MBO) menurut Drucker.

MBO merupakan suatu proses dimana pimpinan dan pegawai dalam suatu organisasi mengidentifikasi tujuan bersama-sama, menetapkan bidang tanggung jawab pokok setiap pegawai dalam hubungannya dengan hasil yang diharapkan dari pegawai, serta menggunakan hal itu sebagai pedoman pengoperasian unit kerja dan penilaian konstribusi masing-masing anggota unit kerja yang bersangkutan. Kelancaran berfungsinya sistem MBO adalah adanya kesepakatan antara pimpinan dengan pegawai tentang tujuan kinerja pegawai dengan tujuan kinerja organisasi dalam periode waktu yang ditentukan.

3.      Manajemen puskesmas merupakan proses mengelola dan memberdayakan sumber daya dalam rangka efisiensi dan efektivitas Puskesmas.

Pelaksanaan tugas Puskesmas harus didukung oleh sumber daya yang mencukupi. Dukungan dana operasional, peralatan kerja seperti alat kesehatan, obat-obatan, vaksin dan sebagainya bertujuan untuk meningkatkan kinerja pegawai dan memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan memuaskan pelanggan.

4.      Manajemen puskesmas merupakan proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

Pengambilan kuputusan merupakan fungsi utama manajemen dalam suatu organisasi, karena keputusan yang telah dibuat akan mengikat seluruh komponen organisasi untuk melaksanakan hasil keputusan tersebut. Keputusan dapat dipandang sebagai suatu tindakan korektif terhadap pelaksanaan kegiatan yang menyimpang dari rencana awal. Hal demikian perlu dilaksanakan bila setelah keputusan diambil dan dilaksanakan, ternyata terjadi penyimpangan yang dapat menimbulkan kerugian besar jika tetap dipertahankan, maka sebaiknya ada keputusan baru yang dapat memperbaiki keputusan lama.

5.      Manajemen puskesmas merupakan proses kerjasama dan kemitraan dalam pencapaian tujuan Puskesmas.

Pimpinan dalam mencapai tujuan organisasi dengan dan melalui pengaturan dan penggerakan orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas organisasi yang diperlukan, atau dengan kata lain pimpinan tidak melakukan tugas itu sendiri. Untuk itu, pimpinan Puskesmas harus memanfaatkan dan memberdayakan sumber daya manusia (SDM) yang ada di Puskesmas sehingga tercipta kerja sama yang dinamis dan harmonis.

6.      Manajemen puskesmas merupakan proses mengelola lingkungan.

Lingkungan mempengaruhi aktivitas manajemen, maka responsivitas dan adaptabilitas organisasi terhadap lingkungannya penting dan menentukan kelangsungan hidup organisasi. Salah satu indikator efektivitas organisasi dan manajemen antara lain ditentukan oleh kemampuan adaptabilitas organisasi dan manajemen yang bersangkutan terhadap lingkungan, yaitu sampai seberapa jauh organisasi dan manajemen tanggap terhadap perubahan lingkungan dalam dan luar. Sebagai konsekuensi dari perubahan lingkungan Puskesmas, baik lingkungan internal maupun eksternal, maka Puskesmas harus senantiasa berubah. Adanya tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang makin bermutu dan memberi kepuasan kepada pelanggannya, mengharuskan Puskesmas menyempurnakan secara terus menerus kinerjanya, yang pada hakekatnya adalah proses perubahan.

Pelayanan Kesehatan di Aceh Utara

Pelayanan kesehatan yang akan dibicarakan disini lebih dispesifikasikan dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas Langkahan dan Puskesmas Sawang. Puskesmas merupakan unit pelaksana tingkat pertama pembangunan kesehatan di Indonesia. Namun masih banyak kekurangan dalam pelaksanaannya khususnya di Puskesmas Langkahan dan Sawang Aceh Utara. Buruknya pelayanan kesehatan di Puskesmas Langkahan dan Sawang akan dijabarkan sesuai dengan fungsi manajemen puskesmas.

Manajemen yang pertama merupakan proses pencapaian tujuan Puskesmas. Dalam hal ini pemimpin dituntut melaksanakan fungsi manajemen, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan pelaksanaan, pengawasan/pembimbingan, dan evaluasi. Namun di Puskesmas Langkahan nampaknya kepala puskesmas belum optimal dalam melakukan fungsi manajemen ini. Dapat dilihat bahwa petugas baik medis maupun non medis yang berada di puskesmas tersebut tidak ada saat kejadian. Hal tersebut menandakan bahwa proses pengorganisasian (organization) dan penggerakan pelaksanaan (actuating) dalam pelaksanaan manajemen belum optimal. Organization dan actiuating merupakan proses menghimpun sumber daya dalam hal ini manusia yang dimiliki puskesmas dan pembimbingan kepada petugas puskesmas agar mereka mampu dan mau bekerja secara optimal menjalankan tugas-tugasnya sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki. Karena kurangnya pembimbingan kepala puskesmas baik di Langkahan maupun Sawang kepada pegawai ini memungkinkan pegawai malas dalam melaksanakan tugasnya. Selain itu proses pengawasan (Controlling) terhadap pegawai maupun sumber daya yang ada juga belum dilaksanakan oleh kepala puskesmas dengan baik. Akibatnya, di puskesmas tersebut hanya ada satu petugas medis tidak tetap atau seperti di puskesmas Sawang yang tidak ada obat antibiotik. Kurangnya pengawasan (Controlling) dari kepala puskesmas juga menyebabkan pegawai masuk kerja hanya 2 jam sehari. Sangat disayangkan juga kalau apa yang diberitakan mengenai kepala puskesmas yang hanya masuk tiga hari sepekan itu benar. Bagaimana kepala puskesmas mengawasi pegawainya jika kepala puskesmas sendiri jarang masuk?.

Manajemen yang kedua merupakan proses menselaraskan tujuan organisasi dan tujuan pegawai Puskesmas. Tidak adanya petugas di puskesmas serta absennya petugas puskesmas Sawang yang masuk hanya 2 jam per hari bisa disebabkan oleh kurangnya kesadaran dari petugas akan tujuan dari puskesmas tersebut. Hal ini sangat disayangkan, mereka (petugas puskesmas) digaji oleh pemerintah untuk melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan tetapi mereka justru hanya masuk beberapa jam saja. Perlu adanya penselarasan kembali tujuan organisasi dengan tujuan pegawai puskesmas agar tercipta kesadaran baik kepala puskesmas maupun pegawai yang tetap setia melayani masyarakat sesuai dengan jam kerja.

Manajemen yang ketiga merupakan proses mengelola dan memberdayakan sumber daya dalam rangka efisiensi dan efektivitas Puskesmas. Sumber daya dapat berupa dukungan dana operasional, peralatan kerja seperti alat kesehatan, obat-obatan, vaksin dan sebagainya. Dalam manajemen ini banyak terdapat kekurangan baik di Puskesmas Langkahan maupun Sawang.  Di puskesmas Langkahan adanya mobil ambulan memang menandakan kondisi yang bagus. Namun dalam perawatan mobil tersebut tidak diperhatikan sehingga pada saat dibutuhkan oleh warga mobil ambulan tersebut tidak dapat digunakan lantaran ban bocor. Lebih-lebih mobil tersebut digunakan oleh kepala puskesmas untuk keperluan pribadi maupun dinas, hal yang sangat harus diperhatikan. Mobil ambulan disediakan untuk membawa pasien gawat darurat untuk merujuk ke rumah sakit bukan untuk keperluan pribadi maupun keperluan dinas kepala puskesmas. Lain halnya dengan puskesmas Sawang. Di puskesmas ini kondisi lebih parah, puskesmas Sawang merupakan salah satu puskesmas yang mempunyai fasilitas rawat inap tetapi obat wajib ada di puskesmas rawat inap seperti obat antibiotik justru tidak ada. Sungguh ironis memang, puskesmas yang mempunyai embel-embel rawat inap tetapi dalam penyediaan obat saja kurang. Bagaimana pelayanan kesehatan di puskesmas ini bisa baik?. Anggapan masyarakat sekarang ini bisa dibilang benar yang memilih berobat ke rumah sakit langsung daripada ke puskesmas. Mungkin mereka tidak mau merasakan kekecewaan akibat kurangnya pelayanan puskesmas yang ada.

Kesimpulan

Puskesmas Langkahan dan Sawang merupakan potret kecil dari puskesmas yang masih banyak kekurangan dalam hal pelayanan. Baik dari petugas puskesmas yang hanya masuk 2 jam per hari maupun keadaan sumber daya yang mendukung kinerja petugas puskesmas. Seperti peralatan maupun ketersediaan obat-obatan. Padahal puskesmas merupakan ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia. Perlu adanya perbaikkan manajemen puskesmas untuk mewujudkan puskesmas yang selalu setia melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Sehingga anggapan masyarakat tentang citra buruk puskesmas dapat luntur dan memilih puskesmas sebagai tujuan pertama berobat.

Lampiran Berita

Buruknya Pelayanan Kesehatan di Aceh Utara

Masriadi Sambo – KONTRAS

Persoalan kesehatan memang masih memprihatinkan di Aceh. Banyak masyarakat yang mengeluh terkait buruknya layanan kesehatan di kabupaten/kota. Fasilitas kesehatan yang tidak memadai, dan gaji tenaga medis honorer yang memprihatinkan, menjadi lingkaran setan memburuknya pelayanan.

RABU, 10 November 2010. Jam baru menunjukkan pukul 20.00 WIB. Sekelompok masyarakat di Desa Keude Kecamatan Langkahan, membawa empat masyarakat yang terluka akibat kecelakaan lalu lintas. Empat orang itu, yakni Fadli Sukra, Nurdin, Ratu Muri dan Muliana. Keempatnya mengalami luka parah.

Masyarakat pun memutuskan membawa ke Puskesmas Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Namun, betapa kecewanya masyarakat saat mengetahui di Puskesmas itu tidak ada dokter. Hanya satu orang dokter pegawai tidak tetap (PTT) yang ada.

Empat korban itu pun kemudian ditangani darurat. Namun, karena lukanya serius, korban banyak mengeluarkan darah, terpaksa dibawa ke rumah sakit di Lhokseumawe. Warga semakin kesal, karena ternyata ban mobil ambulance dalam kondisi bocor. Artinya, ambulans tidak disiapkan  membawa pasien. Di Puskesmas tersebut, ada dua ambulans, satu digunakan Kepala Puskesmas, dr Jafaruddin, satunya lagi dalam kondisi bocor.

Masyarakat pun mengamuk. Mereka mengancam akan membakar gedung itu, jika tidak ada mobil mengangkut rekannya yang terluka ke Lhokseumawe. Sejumlah personel polisi dari Polsek Langkahan pun turun tangan menenangkan amarah masyarakat yang sudah diubun-ubun.

Kapolres Aceh Utara AKBP Farid BE, melalui Kapolsek Langkahan Ipda M Jafaruddin, membenarkan peristiwa masyarakat yang memprotes dan mengancam membakar gedung Puskesmas.

“Mereka kecewa karena tidak ada dokter dan ambulans tidak dalam kondisi yang bisa digunakan,” sebut Kapolsek. Dia menyebutkan, polisi berupaya menenangkan masyarakat. Khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pun, polisi kemudian meminjam mobil warga, untuk membawa korban laka lantas ke Rumah Sakit PMI di Lhokseumawe.  “Setelah kita pinjam mobil, warga pun tenang dan tidak protes lagi, lalu bubar dengan tertib,” terang Kapolsek.

Sementara itu,  Kepala Puskesmas Langkahan, dr Jafaruddin,  membantah bahwa dokter tidak ada di tempat. “Ada dua orang petugas medis sedang piket, satu orang dokter. Lalu, para medis mencari mobil warga untuk membawa pasien ke RS PMI Lhokseumawe. Bahkan, satu petugas medis mendampingi sampai ke rumah sakit,” sebut Jafaruddin.

Dia juga menyebutkan, mobil ambulans sedang bocor ban. Sehingga, tidak bisa dipaksakan untuk digunakan. “Mobil ada, tapi sedang bocor ban. Jadi, tak bisa digunakan,” pungkasnya.

Itu baru kisah pertama. Kisah berikutnya soal layanan buruk juga terjadi di Puskesmas Sawang, Aceh Utara. Anggota DPRK Aceh Utara, Tantawi, menyebutkan hasil amatannya. Kata anggota dewan terhormat itu, tenaga medis di Puskesmas tersebut  masuk kerja sekitar pukul 10.00 WIB dan pulang sekitar pukul 12.00 WIB.

“Itu aneh sekali. Akibatnya, masyarakat yang merugi. Ketika masyarakat datang, sudah tidak ada lagi paramedis. Selain itu, kepala puskesmasnya, dr Yanti hanya masuk tiga kali dalam sepekan,” beber politisi Partai Demokrat itu.

Selain itu, sejumlah obat antibiotik seperti obat bius, paracetamol, oksigen juga tidak ada. Padahal, Puskesmas itu memiliki kapasitas rawat inap. “Saya khawatir masyarakat mengamuk jika terus kondisinya begitu,” sebut Tanwati. Dia menyebutkan, pihaknya telah memanggil Kadis Kesehatan Aceh Utara, M Nurdin.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Sawang, dr Yanti, yang dihubungi terpisah membantah bahwa dirinya jarang masuk kerja. “Tidak benar jika saya tidak masuk kerja. Saya tidak masuk ada, itu pun jika ada rapat di Dinkes Aceh Utara,” terang dr Yanti. Terkait pegawai tidak disiplin, sebut Yanti, hanya beberapa orang saja. Itu pun, terangnya, telah diberi surat teguran. Terkait obat dia membantah ada kelangkaan obat di Puskesmas tersebut.

Sementara itu, Kadis Kesehatan Aceh Utara, M Nurdin, menyebutkan, persoalan di sejumlah Puskesmas segera diatasi. Dia menyebutkan, terkait Puskesmas Sawang, dia turun ke lokasi dan mengingatkan seluruh tenaga medis agar bisa bekerja profesional, sesuai sumpahnya sebagai  pegawai negeri.

Selain itu, bagi petugas Puskemas Pembantu, dan bidan desa, juga diminta untuk bekerja profesional. “Harap masyarakat juga mengontrol. Laporkan kepada saya, kita akan tindak. Seluruh laporan masyarakat akan kita tindaklanjuti. Kita lakukan pemeriksaan, kemudian jika terbukti salah, kita akan tindak tegas,” sebut Nurdin.

Dia menyebutkan, keluhan paling banyak datang dari masyarakat terkait bidan desa. “Nah, bidan desa ini gajinya cukup. Besar, di atas Rp 2 juta. Jika tidak mau bekerja, kita ganti. Masih banyak lulusan bidan yang mau bekerja dan siap membaktikan diri pada rakyat,” pungkas Nurdin sembari meminta agar masyarakat juga mengontrol layanan kesehatan di pedalaman.

Tabloid KONTRAS  Nomor : 568 | Tahun XII  18 – 24  November  2010

http://www.serambinews.com/news/view/43207/buruknya-pelayanan-kesehatan-di-aceh-utara

About pianhervian

Aku hanyalah manusia biasa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP angakatan 2009.... Ingin belajar dan berbagi Cerita dan Informasi di dunia maya....

Posted on 4 Januari 2011, in Tugas Kuliah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: