‘Kemang’, Secuil Pojok Kota Metropolitan

Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti . . .

Potongan lirik lagu dari Efek Rumah Kaca itu terdengar dari radio yang diputar di dalam mobil. Lagu itu telah mengingatkan saya pada momen-momen yang paling berkesan di tahun ini. Momen itu ketika saya mengikuti Kemah Menulis & Leadership di Bogor-Jakarta. Teringat semua kenangan bersama anak-anak KEM 2010-mahasiswa dari beberapa daerah di Indonesia yang lolos kompetisi esai nasional. Teringat pula bagaimana saya berangkat sendirian ke Jakarta, bagaimana saya kebingungan mencari taksi di terminal lebak bulus. Ketika di Wisma Tempo Sirnagalih Bogor, kami bertemu dengan tokoh-tokoh yang biasanya hanya di lihat di televisi. Disana pula kami mendapatkan materi tentang dasar jurnalistik. Tidak hanya itu, kebersamaan kami semua terasa sangat dekat, seperti keluarga baru bagi saya. Semua momen itu resmi ditutup dalam serangkaian acara launching Buku Tempo Seri Bapak Bangsa. Disana kami disuguhi penampilan Efek Rumah Kaca di akhir acara. Pengalaman yang tak dapat dilupakan.

Seusai acara itu, kami pun kembali menuju kantor Tempo Institute untuk beristirahat, ada juga yang menyiapkan diri untuk kembali ke daerah asal-rombongan dari jogja. Sampai di kantor-yang kelihatan seperti rumah biasa-kami tidak langsung tidur, kami dibagikan buku Seri Bapak Bangsa yang barusan dilaunching. Setelah itu, kami beres-beres, berganti pakaian dan menentukan posisi yang pas buat tidur. Tetapi, ada salah seorang panitia yang mengajak kami untuk mencari makanan di malam itu-jam menunjukan hampir pukul 00.00 WIB. Tidak semua ikut, hanya yang mau saja. Diantaranya saya, mas Nodi, mas Boyd, mba Maya, mba Sinta, mba Prima, dan salah seorang lagi yang saya lupa namanya. Kami menuju tempat itu dengan dua motor dan kami bergantian menunggangi motor itu. Beberapa waktu kemudian saya kebetulan bareng bersama mas Boyd sampai di salah satu food court di daerah Kemang yang sebelumnya sudah ditentukan tempatnya. Sesampai di sana kami bingung mencari tempat yang sebelumnya mba Maya dan mba Sinta telah mendahului kami. Saya waktu itu merasa di dunia lain, dunia yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan saya. Masih teringat jelas, ketika mencari tempat itu kami melewati sekelompok pemusik reggae yang memain musik seperti orang mabuk. Di bawah lampu yang tidak terlalu terang.

Setelah sekian lama mencari, akhirnya kami menemukan tempat yang sudah ada mba Maya dan mba Sinta. Ketika saya duduk di situ, saya melihat disekeliling saya. Di hadapan saya-dipojok dari tempat itu ada ibu-ibu (tante-tante kalo orang metropolitan bilang) sedang bermain kartu dan menikmati batang rokok. Ibu-ibu itu tidak sendirian, mereka ditemani bapak-bapak (om-om) gak tau apa itu suaminya apa bukan, karena itu juga bukan urusan saya. Beberapa menit tepat di depan meja kami, ada pengunjung dua cewek dan satu cowok. Mungkin mereka bersahabat. Wajahnya seperti ‘waria’ yang dipermak semirip mungkin dengan cewek. Mereka memakai tanktop. Yang cowok saya tidak melihat wajahnya, karena dia duduk membelakangi kami. Awalnya mereka memesan sisha (seperti rokok dari timur tengah yang rasanya buah-buahan kayaknya). Lalu kedua cewek itu melakukan sesuatu yang sudah saya perkirakan sebelumnya. Mereka merokok.

Disisi lain, di belakang agak jauh dari meja kami, tepatnya di depan tempat pemain musik itu ada sekelompok orang yang perpakaian ala anak metropolitan. Mereka terdiri beberapa orang cewek dan cowok. Mereka menikmati malam itu dengan mendengarkan lagu dan menyantap apa yang mereka pesan. Mereka berjoget-joget ria dengan kelompoknya itu, tertawa terbahak-bahak. Tak berapa lama mereka akhirnya meninggalkan tempat itu dengan merangkul pasangannya dengan jalan seperti orang mabuk. Saya tidak tahu apa yang ada di benak mereka. Menghabiskan uang untuk hura-hura.

Jika kita mengunjungi pinggiran sungai ciliwung atau di bawah jembatan. Kita akan mendapati suatu keadaan yang sangat berbeda dengan kondisi di atas. Mereka yang di sana-pinggiran sungai dan di bawah jembatan-tidak akan pernah mengunjungi tempat itu. Untuk makan saja mereka harus membanting tulang dan memutar otak untuk mendapatkan sesuap nasi. Mungkin mereka mengunjungi tempat itu tetapi bukan untuk makan, tetapi meminta belas kasihan dari mereka yang berhura-hura. Keadaan ini ironis memang, di satu sisi mereka-orang berduit-menghabiskan uang dengan hal-hal yang tidak terlalu penting, tapi disisi lain ada orang yang sangat membutuhkan. Yah, itulah Kemang, secuil pojok kota metropolitan.[]

About pianhervian

Aku hanyalah manusia biasa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP angakatan 2009.... Ingin belajar dan berbagi Cerita dan Informasi di dunia maya....

Posted on 12 Desember 2010, in Serba-serbi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: