Tripusat Pendidikan dan Pendidikan Kerakyatan

Saya sangat mengantuk ketika dosen menjelaskan panjang lebar mengenai mata kuliah yang beliau ampu. Bagaimana tidak, kuliah pagi diganti sore, apalagi fasilitas seperti projector yang dari tadi komting beserta teman saya yang sibuk membenahinya tak kunjung menyala. Dosen pun menjelaskan hanya dengan pidato, tanpa menampilkan slide yang biasanya ada saat perkuliahan.

Saat itu saya mencari ‘sesuatu’ agar saya bisa bertahan tanpa ngantuk. Akhirnya mata saya tertuju pada sebuah buku yang sedang dibaca oleh teman sebelah saya. Saya tidak tahu buku apa yang sedang dibaca oleh teman saya itu. Dari sampul belakang terlihat gambar setengah badan anak sekolah dasar yang sedang jongkok. Lalu saya melihat sampul depan buku itu, dan berjudul “Pembodohan Siswa Tersistematis”. Berhubung teman saya sudah berhenti membaca dan menutup bukunya, saya langsung meminjam buku itu karena tertarik dengan judul bukunya (sok hobi membaca saja ya saya..hhehe). saya langsung membaca bab 1 dari buku karangan Muh. Joko Susilo itu.

Peralahan saya membaca beberapa lembar dari buku itu dan saya sangat setuju apa yang ditulis di dalamnya. Beberapa lembar yang saya baca itu berisikan tentang pandangan penulis mengenai pendidikan di Indonesia ini. Kurang lebih isinya seperti berikut ini : (seinget saya sih, mungkin banyak kurangnya, karena saya juga lupa-lupa ingat..hhehhe)

“Pendidikan merupakan alat untuk menunjang kehidupan. Pendidikan dapat membentuk negara berkembang menjadi negara maju. Di negara-negara maju pendidikan sangat diutamakan daripada bidang-bidang lain. Sampai-sampai negara mau mengalokasikan dana dalam jumlah yang besar untuk pendidikan. Tapi di Indonesia pendidikan ditempatkan diurutan kesekian.

Pendidikan di Indonesia mendapat tempat dikisaran 100an di peringkat dunia. Sedangkan Malaysia yang mana mendatangkan guru dari tanah air mendapat kursi di urutan 50an dan Singapura mendapat tempat di urutan 20an. Singapura sangat jauh dari Indonesia. Padahal Singapura dalam bidang pendidikan mengusung konsep yang diciptakan oleh Bapak Pendidikan di Indonesia.”

Dari beberapa poin tersebut memang pendidikan di Indonesia sangat tertinggal jauh dari negara maju. Terus kapan Indonesia menjadi negara maju?. Negara-negara yang maju itu tingkat pendidikan jauh melebihi negara ini. Tidak akan semaju negara itu apabila tingkat pendidikan setara dengan negara ini. Yang paling membuat saya bingung, kenapa bisa negara tetangga mencontoh konsep pendidikan yang diciptakan oleh seorang “Bapak” pendidikan Ki Hajar Dewantara dan menjadi maju seperti sekarang? kenapa Indonesia tidak? Kenapa Indonesia yang justru mempunyai seorang bapak pendidikan tidak memberlakukan idenya?. Seorang bapak seharusnya dicontoh oleh anak-anaknya tapi pada kenyataannya?.

“Konsep pendidikan yang dibuat oleh Ki Hajar Dewantara disebut dengan. Tripusat Pendidikan. Pendidikan di Lembaga Pendidikan, Pendidikan di Masyarakat, dan Pendidikan di Keluarga. Saat ini Indonesia hanya menerapkan lembaga pendidikan saja yaitu sekolah. Sekolah dianggap sebagai wadah untuk mencari ilmu dan dari sanalah kehidupan mendatang akan dibentuk. Masyarakat dan keluarga melimpahkan pendidikan sepenuhnya ke Sekolah paling pol anak juga dipaksa untuk mengikuti pembelajaran di lembaga pendidikan yang lain. Ketika anak gagal, Sekolah yang disalahkan”. Haha..ini sungguh suatu hal yang lucu di negeri kita sekarang ini. Dan apa yang bisa kita perbuat untuk merubahnya??

Apabila konsep pendidikan yang diidekan oleh Ki Hajar Dewantara itu diterapkan sekarang ini tidak ada salahnya. konsep itu sangat bagus. karena selain pendidikan di sekolah, anak-anak akan mendapatkan pendidikan yang lain misal dari masyarakat. Menurut saya pendidikan juga tidak harus melulu di sekolah. Di sekolah kita hanya mendapatkan materi akademik saja. Tetapi jika kita belajar dari masyarakat maka kita akan menambah pengetahuan mengenai sosial budaya, minimal itulah.

Satu lagi konsep pendidikan yang sangat cocok untuk diterapkan sekarang ini, Pendidikan Kerakyatan. Pendidikan kerakyatan ini saya dapatkan dalam seri buku tempo Bapak Bangsa Tan Malaka. Dasar dan Tujuan Pendidikan Kerakyatan : Pertama, perlunya pendidikan keterampilan dan ilmu pengetahuan seperti berhitung, menulis, ilmu bumi, dan bahasa. Hal ini sebagai bekal dalam menghadapi kaum pemilik modal. Kedua, pendidikan bergaul atau berorganisasi dan berdemokrasi. Ini untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri, dan cinta kepada rakyat miskin. Dan ketiga, pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Semoga kedua konsep pendidikan ini dapat menjadi pertimbangan dalam dunia pendidikan di Indonesia…..

About pianhervian

Aku hanyalah manusia biasa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP angakatan 2009.... Ingin belajar dan berbagi Cerita dan Informasi di dunia maya....

Posted on 24 November 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: